Ayah, Ibu, dan Bayi

Tadi saat aku pulang, terjadi kecelakaan. Pengendara motor yang membonceng seorang wanita (sepertinya istrinya) menabrak pintu bis yang aku tumpangi, aku mendengar teriakan seorang wanita, saat menoleh ke kiri. si Ibu yang menggendong bayi sudah jatuh. Alhamdulillah tidak ada yang luka parah sepertinya.

saat melihat mereka jatuh, hampir semua penumpang dalam bis mengucap Istighfar, mungkin hanya aku yang mengumpat dalam hati sambil sedikit berteriak. “Barang-barang lo jagain, bayi lo hati hati woy”  lebih ingin berbicara pada diri sendiri dibanding memberitahu mereka, karena selain tidak akan terdengar keluar, malah terasa tidak etis. mengatakan untuk menjaga barang barang saat terjadi kecelakan. wajah orang orang semakin serius manakala melihat seorang bayi digendong, bayinya sendiri masih sangat kecil. kudengar baru satu bulan.

aku mengumpat lagi “nih orang ngapain sih bawa bayi baru satu bulan jalan jalan naek motor? pake mobil sih mending. mana jalanan basah kan? ngerepotin diri sendiri aja”

aku baru tau, kalau mereka berniat imunisasi. tapi aku masih agak kesal dengan kelakuannya yang bawa bayi sebulan sembarangan, okay mereka korban tapi tidak lantas melunaskan kesalahannya dengan alasan imunisasi bawa bayi naek motor sore sore, udah mau gelap. jalanannya basah pula’ habis hujan. Imunisasi dimana coba? sore sore begitu? Posyandu dan Puskesmas bukanya kan dari pagi sampe siang. kesorean mah tutup lah, mau ke rumah sakit? sok sokan banyak duit amat imunisasi doang ke rumah sakit. ke rumah sakit kok pake motor? pake mobil kek~ okey ga boleh menghakimi orang yang terluka sembarangan nanti kualat. tapi aku cuma kesal, bayi mereka kan baru sebulan! sebulan! Ya Alloh sebulan doang pengalaman hidupnya udah mendebarkan!

segalanya terdengar kasak kusuk, dengan kata bayi disebut sebut. padahal yang kecelakaan tidak cuma bayinya saja, bagaimana si Ibu? baru melahirkan satu bulan lalu kan? masih belum bisa solat, tapi kenapa ga disebut sebut? bagaimana dengan Ayah? Ayah yang pelan pelan dan hati hati mengendarai sepeda motor, namun menabrak pintu bis, dan ditabrak dari belakang. baru saat diketahui kalau bayinya berumur sebulan, ibu ibu dibelakangku nyeletuk “ya ampun itu mah masih sakit sisa melahirkan

Kenapa ya, Ayah selalu ketinggalan? aku sendiri sampai depan rumah baru kepikiran, itu Ayahnya gimana ya? kasihan dia pasti panik banget dalam hati Istri dan anaknya baru aja mengalami proses sakral. udah kecelakaan.

 

 

Pesan moral :

  1. berdoalah sebelum naik kendaraan dan bepergian.
  2. jangan lupa pakai helm, bukan hanya agar tidak ditilang pak polisi, tapi juga agar aman berkendara
  3. sabar! jangan maen turun sembarangan, dan buka pintu saat bis masih di tengah jalan
  4. jika membawa bayi yang masih kecil perhatikan tidak hanya kecepatan berkendara! tetapi juga jarak antara kendaraan!
  5. bawalah bayi imunisasi, saat si bayi sehat, dan usahakan saat cuaca sedang baik dan di saat perjalanan nyaman. hindari berkendara di jam yang sibuk.

 

semoga keluarga yang tadi baik baik saja. dedek bayi nya tumbuh sehat.

 

 

Advertisements

7 thoughts on “Ayah, Ibu, dan Bayi

  1. serem juga baru satu bulan udah ngalamin pengalaman kae gitu. meski gak ada yang kenapa kenapa, tetep aja baru satu bulan kasian istri yang baru melahirkan. apalagi sang bayi.

    syukur gak kenapa kenapa ya

  2. Saya juga suka cenderung menghakimi orang dan memaksakan pikiran-pikiran kita ke orang lain. Tapi itu ga boleh lho. Mungkin si Ibu itu punya alasan yang kuat kenapa bawa bayi untuk imunisasi sore2 meskipun dia harus menanggung konsekuensinya. Ada banyak hal yang bisa jadi alasan dan bisa-bisa itu di luar jangkauan pikiran kita. Semoga mereka tidak apa-apa.

  3. Saya kok jadi kepikiran.
    kemana ayahnya?
    kok nggak nganterin?
    kenapa tidak minta adik cowoknya (kalo ada) nganterin aja?
    atau tetangga cowok jika bersedia?

  4. Itulah manusia, Nit, kepikiran pertama sama yg paling lemah, pertama si bayi, trus ibu, trus ayah… padahal semua manusia sama lho…

    Pernah sama kepikirannya sepertimu… kenapa ayah atau seorang laki-laki jarang bgt jadi pikiran orang… selalu jadi yang kesekian untuk dipikirkan nasibnya. apakah itu karena mereka lebih kuat? oh belum tentu…

  5. emang kasian semuanya, ya bayinya, ibunya, bapaknya. Jd sebaiknya jangan cuma menyalahkan saja kenapa mereka naik motor bawa bayi. Mgkn mereka memang cm punya motor saja sebagai sarana transportasi. Dan juga hak asasi jika mereka memilih imunisasi di rumahsakit (dan bukan di puskesmas). Mgkn someday kalo kamu dah jadi ortu, akan tau bagaimana rasanya. Mereka mgkn ingin memberikan yg terbaik untuk si anak. Dan kejadian kecelakaan itu, pastinya amat sangat tidak mereka sengaja dan tidak mereka harapkan. Namun mgkn si ayah juga sedang letih sehingga kurang konsentrasi. Hal-hal lainnya, bs aja someday kita liat ortu naik motor bawa-bawa bayi, tolonglah jangan asal men-judge mereka. Mgkn aja anaknya lagi sakit dan harussegera ke dokter, atau apalah.. Mereka pasti punya alasan sendiri yang kita gak tau, dan mereka mgkn cuma mampu beli motor, dan pastinya mereka gak pernah mau, gak pernah mengharapkan untuk mendapat musibah di jalanan.
    Sebaiknya makin tumbuhkan empati terhadap sesama, karena someday bs jadi diri sendiri akan berada di posisi tsb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s